Dikeluarin Dikit Biar Keren
Melalui facebook diketahui bahwa Jhoni Pronoto, boss sebuah perusahaan terkenal akan berulang tahun. Iwan sang anak buah, berusaha untuk mencari muka dengan mengirimkan kado kenangan buat sang bos, yang dikenal 'garang' di kantornya itu.
Saat itu Iwan meminta istrinya untuk membungkus sebuah topi yang baru dibelinya, karena dirinya sangat mengetahui kalau bosnya memilki hobi memancing. Sehingga cocok jika diberi sebuah topi. Bersamaan itu Iwan menyerahkan sebuah pesan untuk yang dimasukkan ke dalam kotak kado.
Celakanya setelah kado itu dikirimkan ke rumah bosnya, Istri Iwan baru menyadari kalau barang yang dibungkus salah. Barang yang dibungkus justru sebuah celana dalam yang bersamaan dibelikan Iwan saat ke toko.
Padahal di kartu ucapan Iwan tadi tertulis, "Pak, kalau dipake rambutnya dikeluarin dikit yah, biar keren."
Saya Lebih Baik di Tempat Tidur
Suatu hari Mimin, seorang pembantu di keluarga sebuah keluarga kaya dimarahi sang juragan karena dianggap teledor dengan pekerjaannya. Sang majikan perempuan tak henti-hentinya memaki-maki dirinya, bahkan merendahkan dirinya dengan menyamakan dengan hewan.
Karena merasa tak kuat Mimin akhirnya juga terbawa mara. "Meski saya begitu Nyonya, paling tidak saya lebih baik dari pada ibu di tempat tidur," kata Mimin dengan mata melotot.
Sang majikan terbawa semakin marah dan penasaran dengan pengakuan pembantunya. Jangan-jangan suaminya telah main gila dengan pembantunya. "Dasar kamu!. Bapak yang bilang seperti itu padamu?" tanya majikan setengah bertanya.
Pembantu itu pun dengan ringan sambil bersendekap tangan menjawab, "Bukan, tapi supir"
Kurang Kerjaan
Ginting, adalah seorang profesional muda asal Medan yang sedikit tuli. Pria dengan rambut cepak ini pun baru pertama kali berlibur ke kota budaya, Jogjakarta. Suatu hari dirinya ingin sekali menikmati minuman khas daerah Jogja, yaitu dawet (cendol).
Ginting: "Mbak, beli dawetnya."
Penjual Dawet: "Sampun telas mas."
Penjual Dawet: "Sampun telas mas."
Ginting: "Iya, memang harus pake gelas..."
Penjual Dawet: "Mboten wonten mas."
Penjual Dawet: "Mboten wonten mas."
Ginting : "Betul, memang saya suka pake santen..."
Penjual Dawet: "Dasar sinting! (dengan nada kesal)"
Penjual Dawet: "Dasar sinting! (dengan nada kesal)"
Ginting : "Lho, kok tau nama saya Ginting?"
Penjual Dawet: "Dasar wong edan (tambah kesal)"
Penjual Dawet: "Dasar wong edan (tambah kesal)"
Ginting : "Wah mbak betul lagi... saya memang Medan!"
Penjual Dawet: "Dasar wong ora duwe otak! (sambil menggerutu)"
Penjual Dawet: "Dasar wong ora duwe otak! (sambil menggerutu)"
Ginting : "Benar, benar saya orang Batak !"
Penjual Dawet: "Dasar budeg...!"
Penjual Dawet: "Dasar budeg...!"
Ginting : "Selain cendol saya memang suka gudeg."
Penjual Dawet: "Sampeyan kok kurang kerjaan to ?"
Penjual Dawet: "Sampeyan kok kurang kerjaan to ?"
Ginting : "Benar sekali mbak, teman-teman saya memang semua kurang kerjaan, cerita kayak gini ini juga dibaca sampai habis!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar